Wednesday, January 28, 2009

Memaafkan

‘Tidak ada orang yang lahir untuk membenci terhadap sesama kerana perbezaan warna kulit atau agama,’ ungkap Nelson Mandela, bekas Presiden Afrika Selatan.

Maaf, sebuah kata yang sangat pendek, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Bila tidak ada persoalan dengan kata ini, pasti takkan ada cerita 'Malin Kundang'. Takkan ada pula lagu 'Camelia 3' yang dipopularkan Ebiet G. Ade di tahun 1980-an. Bila si ibu memaafkan Malin, tentu dia tidak akan menjadi batu.

Juga, tak akan ada pula bait-bait rasa bersalah dan penyesalan yang ditumpahkan oleh Ebiet G. Ade dalam 'Camelia 3'. Jadi, tidak perlu lagi panjang-panjang kata mengupas soal kata yang hanya terdiri empat huruf tersebut. Intinya, maaf adalah proses lanjutan dari sebuah peristiwa tersakitinya atau tercederainya satu pihak oleh pihak lain. Ya, namanya juga hati sudah tercederai, sulit rasanya dengan mudah untuk diubati.


Sebaliknya, orang yang tidak termaafkan sepanjang hidupnya akan mengalami kegelisahan yang akan mengganggu hidupnya. Nah, tentu hal itu tidak kita inginkan. Kerana namanya juga hidup, sekali waktu kita yang punya hak untuk memberi maaf pada orang lain. Di saat lain, untuk hal sekecil apa pun persoalannya, kita pasti pernah memohon maaf pada orang lain. Tentu kita tidak ingin perasaan bersalah terus mendekam dalam hati kita. Sebab, sungguh sangat tidak menyenangkan.

Meminta maaf memang mudah, tetapi memberi maaf jauh lebih sukar daripada yang dibayangkan.

Masalahnya, bagaimana kita boleh memaafkan seseorang bila hati kita sudah sedemikian sakit atau remuk? Mari sejenak kita buka lembaran sejarah untuk menemukan jawabnya.

Anda tahu Nelson Mandela? Lengkapnya, Nelson Rolihlahla Mandela, bekas Presiden Afrika Selatan. Mandela adalah orang yang terkenal dengan kerendahan dan kelapangan hatinya. Bayangkan, akibat aktiviti politiknya, dia beroleh ganjaran dipenjara selama 27 tahun. Sungguh tak mengenakkan. Bayangkan, teman-temannya dapat berkumpul dengan suami atau isterinya, membesarkan anak-anaknya. Sedangkan Mandela, sepanjang hari hanya berada di balik jeruji besi.

Ketika dia berkuasa menjadi presiden di negara itu pada tahun 1994, dia sama sekali membuang dendam tersebut. Meskipun memiliki kekuasaan, Mandela tidak menggunakan kekuasaannya untuk membalas dendam, dia memaafkan semua lawan-lawan politiknya. Hal tersebut tertuang dalam kata-katanya, 'No-one is born hating another person because of the colour of his skin, or his religion.'

Manusia seperti Nelson Mandela hanya ada satu antara sejuta. Namun, sikapnya itu bukannya tidak dapat memberikan inspirasi betapa agungnya seseorang yang dengan kerendahan hati membagi-bagikan maafnya pada orang-orang yang menzaliminya. Kalau pun berfikir dosa, itu menjadi urusan manusia dengan Tuhannya.

Sebenarnya, memberikan maaf pada orang lain bukan saja meringankan langkah dan hidup orang yang pernah zalim, tetapi juga bagi si pemberi maaf. Kurang percaya? Mari kita telaah buku yang berjudul `Forgive for Good' atau istilah Melayunya, Maafkanlah demi Kebaikan, yang ditulis oleh Dr. Frederic Luskin.

Luskin menjelaskan orang-orang yang memiliki sikap pemaaf sudah jelas memiliki kesihatan yang lebih dan dijamin hidupnya akan bahagia.

Ini penjelasan lanjutnya. Saat kita memberikan maaf kepada seseorang, tanpa kita sedari perasaan tenang merayap dalam tubuh. Ada sebuah penaklukan dalam diri kita terhadap sebuah kekesalan dalam tubuh kita. Nah, dengan begitu semua sikap buruk akan lenyap.

Kemarahan telah padam dengan kesabaran yang dimiliki. Tentu hal ini akan sangat menguntungkan. Sebab, menurut Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang membahayakan. Lihat saja sekeliling kita. Orang yang cepat marah dan menyimpan kemarahannya, sudah pasti tidak pernah memakai solekan dengan baik. Semahal apa pun kosmetik yang dipakainya, tidak akan mampu mengusir kerutan di kulitnya.

Jadi mulai sekarang, kalau mahu mengikuti nasihat Pak Luskin, mulailah mengawal emosi dalam tahap yang dapat dikendalikan. Sehingga nantinya tidak meledak-ledak dan hujung-hujungnya boleh membakar tubuh. Orang seperti ini sudah jelas tidak mudah punya stok maaf yang bertumpuk.

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Harvard Women's Health Watch, 2005, menyatakan bahawa memaafkan seseorang yang melukai kita boleh membuat keadaan mental dan fizikal menjadi lebih baik. Ternyata memaafkan memiliki banyak kejutan yang tidak terduga. Dan sangat mungkin, memberi maaf akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan orang yang dimaafkan.

Mulai sekarang memang saatnya untuk lebih mudah memaafkan seseorang. Memang sukar namun keuntungannya juga banyak.


Sumber: Memaafkan oleh Sonny Wibisono.
Post a Comment