Friday, March 11, 2011

Lelaki tanpa hati (2)

Jawapan Imam Hasan al-Banna

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saya telah membaca suratmu dan sangat terkesan dengan kejujuran bahasamu, keindahan keberanianmu, lembutnya kesedaranmu dan hidupnya hatimu.

Saudaraku, engkau bukan orang yang hatinya mati seperti mana yang engkau fikirkan. Akan tetapi, engkau adalah seorang pemuda yang perasaannya tajam, jiwanya bersih dan nuraninya lembut. Seandainya tidak bersifat demikian, tentulah engkau tidak menuduh dirimu dan tidak engkau ingkari perasaanmu. Akan tetapi besarnya semangat dan jauhnya tujuan, membuatmu menganggap kecil urusanmu yang besar dan engkau mengharapkan tambahan untuknya. Tidak ada masalah dalam hal itu dan memang itu harus terjadi.

Saya merasakan apa yang engkau fikir, saya berjalan sebagaimana engkau berjalan dan saya akan berusaha untuk mengajukan beberapa nasihat. Jika nasihat tersebut bermanfaat bagimu dan dengan melaksanakannya engkau lihat dapat menghapus dahaga serta mengubati sakitmu, maka Alhamdulillah, di atas taufik-Nya. Namun jika tidak demikian, maka saya senang untuk bertemu denganmu agar kita saling bekerjasama bagi mengenal pasti penyakit dan menentukan ubatnya.

Berteman dengan orang-orang khusyuk yang selalu merenung, bergaul dengan orang-orang yang selalu berfikir dan menyendiri, dekat dengan orang-orang yang bertaqwa dan soleh, dari mereka terpancar hikmah dan dari wajah mereka terpancar cahaya, hati mereka bertambah dengan makrifat dan jumlah mereka yang sedikit adalah ubat yang mujarab. Berusahalah untuk menjadi teman mereka, selalu bersama mereka, kembali kepada mereka dan engkau sambung ruhmu dengan ruh mereka, jiwamu dengan jiwa mereka serta engkau habiskan kebanyakan waktu kosongmu bersama mereka. Hati-hatilah dengan orang yang ‘mengaku-mengaku.’

Carilah orang yang pengaruhnya membuatkan engkau bangkit, perbuatannya membuatkan engkau baik dan jika engkau melihatnya maka engkau mengingat Allah.

Berteman dengan orang-orang seperti ini adalah salah satu ubat yang paling mujarab kerana watak seorang manusia adalah sering mencuri sehingga hati terpengaruh oleh hati dan jiwa pun mengambil dari jiwa. Oleh itu, berusahalah untuk menemukan jiwa-jiwa yang soleh sebagai teman.

Saudaraku, berfikir dan berzikir pada waktu yang bersih, menyendiri, bermunajat, merenungi alam yang indah serta menakjubkan, menggali rahsia keindahan dan keagungan alam, meneliti dengan hati dan berzikir dengan lisan tentang pengaruh keagungan yang mencengangkan serta hikmah yang agung ini, termasuk hal yang memberi kehidupan kepada hati dan menyinari pokok-pokok kalbu dengan keimanan dan keyakinan.

Allah swt berfirman, ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih berganti siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.’ (Ali Imran:190)

Saudaraku, selanjutnya berfikir tentang masyarakat, melihat pelbagai penderitaan, kebahagiaan dan kemakmuran serta menjenguk orang sakit, menghibur orang-orang yang ditimpa bencana dan mengenali sebab-sebab kesengsaraan yang berupa protes, kekafiran, kezaliman, melanggar aturan, sikap mementingkan diri sendiri, ego, terpedaya oleh hal-hal yang melalaikan, semua ini merupakan sentuhan bagi dawai-dawai hati yang menyatukan cerai-berainya dan menghidupkannya dari kematian. Maka berusahalah agar keberadaanmu menjadi penghibur bagi orang-orang yang sengsara dan ditimpa bencana. Tidak ada hal yang pengaruhnya lebih kuat terhadap perasaan daripada berbuat baik kepada orang-orang yang sangat memerlukan, membantu orang-orang teraniaya atau berkongsi kesedihan dengan orang susah dan menderita.

Saudaraku, hati ada di tangan Allah. Dia mengubahnya sesuai kehendak-Nya. Oleh itu bersungguh-sungguhlah dalam berdoa agar Dia memberikan kehidupan kepada hatimu, membuka dadamu dengan iman dan melimpahkan keyakinan kepadamu sebagai anugerah serta nikmat dari-Nya. Berdoalah di waktu mustajab dan waktu sahur kerana doa di waktu sahur umpama anak panah yang meluncur dan tidak berhenti sehingga sampai ke ‘arasy. Saya tidak meragukan keikhlasanmu dalam mencapai tujuan dan kejujuran dalam pengakuanmu.

Allah swt berfirman, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) daripada orang-orang yang bertaqwa.’ (Al-Maidah:27)



Saudaramu Hasan al-Banna
Post a Comment