Friday, September 18, 2009

Hasan Al-Banna, tokoh pembaharu Islam abad ke-20

Nama Hasan Al-Banna sudah sangat tidak asing bagi sebahagian umat Islam. Jejak perjuangannya, membuat namanya cukup tersohor di dunia Islam.

Nama lengkapnya adalah Hasan Ahmad Abdurrahman Al-Banna. Ia adalah seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekali gus pendiri dan pimpinan tertinggi Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Islam). Oleh kerana peranannya itu, dia mendapat julukan sebagai pembaharu Islam abad ke-20.

Hasan Al-Banna berusaha berjuang dan menyiarkan dakwah Islam, sebagaimana tuntutan al-quran dan sunah Rasulullah SAW. Perhatiannya sangat besar terhadap upaya meluruskan pemahaman Islam dan mengembalikan nilai-nilai ajaran Islam yang telah dibuang oleh umat Islam sendiri.

Menurut Al-Banna, sebahagian besar umat Islam hanya menginginkan akidah tanpa syariah, agama tanpa negara, kebenaran tanpa kekuatan, dan perdamaian tanpa perjuangan. Tetapi, Al-Banna menginginkan Islam sebagai akidah dan syariah, agama dan negara, kebenaran dan kekuatan, perdamaian dan perjuangan.Suatu ketika dia ditanya oleh seseorang dan si penanya mengharapkan Hasan Al-Banna menjelaskan tabiat dirinya. Imam Hasan Al-Banna berkata, ‘Saya adalah seperti seorang pelancong (pengembara) yang sedang mencari kebenaran, orang yang mencari jati diri yang sebenarnya, warga negara yang mendambakan kemuliaan, kemerdekaan, ketenteraman, dan kehidupan yang mudah di bawah naungan agama Islam yang lurus. Saya berusaha untuk menerapkan Islam yang sebenarnya..’

‘Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Tuhan alam semesta yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah diri saya yang sebenarnya, sekarang siapa diri Anda yang sebenarnya?’ tegasnya.

Hasan Al-Banna, dikenal sebagai seorang tokoh yang paling gigih memberikan penjelasan kepada umat Islam tentang erti penting keterlibatan umat Islam dalam politik. Menurutnya, politik adalah bahagian dari Islam dan sesungguhnya kemerdekaan adalah salah satu kewajipannya.

Selain itu, Al-Banna juga memberikan perhatian yang besar dalam pembentukan generasi muda Muslim yang istiqamah terhadap diri sendiri dan menjadikan Allah sebagai tujuannya, Islam jalannya dan Muhammad sebagai teladannya.

Untuk itu, menurut Al-Banna, para generasi muda Islam haruslah memahami Islam secara mendalam, memiliki iman yang kuat, menjalin hubungan yang erat satu sama lain, mengamalkan ajaran itu dalam dirinya sendiri, bekerja dan berjuang untuk mencapai kebangkitan Islam serta berusaha mewujudkan kehidupan yang Islami dalam masyarakatnya.

Bagi mencapai tujuan tersebut, kata Al-Banna, umat Islam tidak boleh terpecah belah. Sebab, perpecahan itu akan melemahkan kekuatan Islam. Dalam pandangannya, umat Islam harus disatukan dalam satu landasan Islam yang universal. Islam itu harus bersatu agar semakin kuat dan jaya.

Keinginan Al-Banna yang besar ini sudah muncul sejak dia masih muda. Dari sini pula, dia mendirikan perkumpulan atau organisasi Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Islam), bersama enam orang temannya, pada tahun 1938.

Tujuan dari pendirian organisasi tersebut adalah untuk memberi pemahaman Islam yang benar. Menurutnya, Islam adalah merupakan akidah, seruan untuk beribadah, tanah air, kewarganegaraan, kelapangan, kekuatan, akhlak, alat untuk mencari material, kebudayaan dan perundangan. Beberapa tokoh yang tergabung di dalamnya, antara lain Sayyid Quthb dan Yusuf Al-Qaradhawi.

Keberadaan organisasi Ikhwanul Muslimin ini mampu memberikan semangat baru bagi generasi muda Islam untuk bangkit dan bersama-sama memperjuangkan Islam, sesuai dengan tuntunan al-quran dan sunah Nabi SAW.

Menurut Almuzammil Yusuf, dalam bukunya tentang Pemikiran Politik Ikhwanul Muslimin, kelahiran organisasi ini disebabkan adanya fakta sejarah yang menunjukkan keimanan umat Islam sudah mulai bercampur dengan sesuatu yang tidak diajarkan dalam al-quran mahupun hadis Rasulullah SAW.

Selain itu, kemunculan organisasi ini disebabkan adanya fenomena perang Salib, keragaman pendapat dan gagasan tokoh Muslim seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Di samping itu, kemunculannya juga disebabkan adanya pengaruh sufi dan tarekat serta gerakan ideologi politik.

Ahli pidato

Hasan Al-Banna dilahirkan pada 14 Oktober 1906 di Desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Ayahnya, Sheikh As-Sa'ati, adalah seorang ulama hadis dan pengarang buku dalam bidang hadis yang berjudul Al Fath Ar Robani fi Tartib Musnad Al Imam Ahmad . Dia memperoleh pendidikan dasar di sekolah Ar-Rasyad Ad-Diniyah. Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-quran.

Walaupun masih muda, di sekolahnya dia sudah mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Jam'iyah Al-Akhlaq Al-Adabiyah dan organisasi Man'u Al-Muharramat. Dia juga selalu menulis surat yang dikirimkan kepada orang-orang yang berpengaruh. Dalam surat yang tidak menyebutkan namanya itu, berisi tentang nasihat-nasihat kepada mereka. Dia selalu mengunjungi perpustakaan As-Salafiyah dan tempat-tempat berkumpulnya para ulama Al Azhar.

Sewaktu muda, Hasan Al-Banna sering mengunjungi tempat-tempat hiburan, gedung-gedung pertemuan dan kelab. Dalam kunjungannya ke tempat-tempat tersebut, Hasan Al-Banna dan teman-temannya selalu mengajak mereka agar kembali kepada Islam yang benar.

Selepas lulus SMA, pada tahun 1923 Al-Banna melanjutkan pendidikan ke Fakulti Dar Al Ulum dan lulus pada tahun 1927 dengan mendapatkan peringkat pertama. Setelah menamatkan pendidikannya, dia kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk berdakwah hingga kemudian dia memutuskan untuk menetap di Ismai'iliyah.

Tahun 1938, bersama enam orang temannya, dia mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin. Di Isma'iliyah, dia mendirikan masjid, pejabat organisasi Ikhwanul Muslimin dan sekolah Hara untuk mempelajari Islam. Di samping itu, di sana dia juga mendirikan sekolah yang diberi nama Ummahatul Mukminin. Tujuan dari pendirian sekolah tersebut adalah untuk mendidik putera-puteri Islam dengan pendidikan Islam yang benar. Kemudian berpindah ke Kaherah, di sana dia mendirikan sebuah pejabat pusat untuk organisasinya yang diberi nama Pejabat Pusat Umum.

Hasan Al-Banna dikenal sebagai seorang yang ahli dalam berpidato, lidahnya sangat fasih, ahli dalam sastera dan pandai memilih kata-kata yang tepat. Pada tahun 1941, dia dipenjara selama sebulan berkaitan dengan pidato yang disampaikannya yang isinya mengkritik sistem politik Inggeris pada Perang Dunia ke II. Masih pada tahun yang sama, dia dipaksa pindah ke Qana.

Di tempat barunya ini, Al-Banna terus melanjutkan perjuangannya dengan menyampaikan dakwah dan mengajarkan Islam kepada umat dari satu tempat ke tempat yang lain. Dia juga mengirimkan delegasi-delegasi ke seluruh penjuru dunia untuk mengetahui keadaan umat Islam. Delegasi-delegasinya menginformasikan tentang realiti dunia Islam.

Pada tahun 1948, dia mengirimkan satu batalion pasukan ke Palestin. Pasukan yang dikirim ke Palestin itu terdiri daripada orang-orang Ikhwanul Muslimin. Dalam pertempuran melawan orang-orang Ikhwanul Muslimin, pasukan Yahudi mendapatkan kekalahan yang teruk. Salah satu jenderalnya berkata, ‘Seandainya mereka memberikan kepadaku satu batalion orang-orang Ikhwanul Muslimin, maka dengan pasukan tersebut saya pasti menaklukkan dunia.’

Peribadi kehidupan Asy-Syahid

Dalam kalangan para pendiri dan anggota Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna dikenal sebagai seorang yang sangat rendah hati, sangat menjaga kebersihan, daya ingatnya sangat kuat, selalu semangat dan tak kenal lelah, sangat mencintai manusia dan berlaku lemah lembut kepada mereka, selalu senyum, pemberani dan juga tidak pernah meninggalkan solat malam.

Sayyid Quthb, salah seorang rakannya di Ikhwanul Muslimin, memberi maklum tentang Hasan Al-Banna, ‘Sesuatu yang besar dalam diri Hasan Al-Banna adalah dia selalu berfikiran positif, berbuat baik dan pintar.’

Sheikh Muhammad Al-Hamid mengulas Imam As-Syahid, ‘Sejak lama umat Islam tidak menjumpai orang seperti Hasan Al-Banna.’ Syekh An-Nadawi juga berkomentar tentang diri Hasan Al-Banna,’ Dia adalah sosok yang mengejutkan Mesir dan dunia Islam.’

Suatu saat terjadi kekacauan di Mesir dan pemerintah tidak mampu mengatasinya. Pemerintah terus menuduh Ikhwanul Muslimin yang ada di balik kekacauan tersebut. Dengan alasan ini, pemerintah Mesir menutup pejabat Ikhwanul Muslimin dan banyak anggotanya yang dipenjara serta organisasi mereka juga dibubarkan.

Sementara pengasas Ikhwanul Muslimin, terbunuh sebagai syahid pada tahun 1948 di penempatan Ramsis. Di suatu malam, ada tiga orang yang menembakkan senjatanya ke arah Hasan Al-Banna dan mereka terus melarikan diri. Oleh banyak kalangan, para penembak misteri ini diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah. Dua dari mereka adalah seorang pengintip dan satunya lagi adalah Muhammad Abdul Majid yang bekerja sebagai ketua Keamanan Negara Mesir ketika itu.

Hasan Al-Banna kemudian dilarikan ke rumah sakit. Oleh kerana adanya ancaman yang keras dari pemerintah, orang-orang tidak ada yang berani mendekati dan membalut lukanya. Akibatnya, dua jam setelah penembakan terhadap dirinya, Hasan Al-Banna meninggal dunia tanpa ada yang memberinya pertolongan. Dia hanya disembahyangi oleh ayah dan keempat saudara perempuannya.

Sebelumnya, pemerintah memadamkan listrik terlebih dahulu di kampungnya. Pemerintah bersedia menyerahkan jenazah kepada keluarganya, dengan syarat mereka tidak akan mengumumkan berita duka. Jenazah kemudian dibawa oleh ayah dan saudara-saudaranya. Proses pemakaman jenazah dilakukan dalam suasana yang sangat mencengkam dan dengan di kelilingi oleh kereta kebal. Kuburnya dijaga ketat oleh tentera agar para pengikut Hasan Al-Banna tidak memindahkan jenazahnya.

Kematian Hasan Al-Banna pun menjadi duka berpanjangan bagi umat Islam. Dia mewariskan sejumlah bahan penulisan seperti Mudzakkirat Ad-Du'at wa Ad-Da'iyyah (Catatan Harian Dakwah dan Da'i) serta Ar-Rasail (Kumpulan Surat-surat). Selain itu, Hasan Al-Banna mewariskan semangat dan teladan dakwah bagi seluruh aktivis dakwah saat ini.

Wirid Al-Ma'tsurat

Al-Ma'tsurat adalah salah satu karya yang pernah disusun oleh Hasan Al-Banna. Risalah kecil berupa wirid dan doa yang diambil dari sejumlah surah dalam al-quran ini sangat popular dalam kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Bahkan, wirid-wirid yang terkandung di dalamnya dijadikan sebagai amalan harian wajib bagi para pengikut kelompok Ikhwanul Muslimin dan kebanyakan para aktivis pergerakan Islam.

Bacaan doa dan wirid yang terdapat dalam kitab Al-Ma'tsurat ini merupakan bahagian dari amalan-amalan tarikat Shufiyyah Hashshofiyyah, di mana Hasan Al-Banna telah menjadi salah satu pengikutnya sejak usia muda. Semasa hidupnya, dia selalu mengamalkan ritual-ritual tarikat Hashshofiyyah tersebut seperti Wazhifah (wirid) Rozuqiyyah setiap pagi dan petang.

Pada akhir Al-Ma'tsurat ini tercantum Doa Rabithah yang bermaksud, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya Ya Allah, abadikan kasih sayangnya.’


Sumber: Republika Online (diedit)
Post a Comment