Wednesday, October 18, 2017

Pemikiran modenerat Hasan Al Banna







Hak-Hak Anak

Mendapatkan keturunan adalah tujuan terpenting dalam sebuah pernikahan. Islam sangat memerhatikan masalah anak, sejak dari janin hingga lahir. Bahkan, Islam memerintahkan ibu bapa untuk mempersiapkan persekitaran yang baik sebagai tempat perkembangan anak-anak.

Allah swt berfirman, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. (Al-Kahfi: 46)

Adapun yang menjadi hak-hak anak ke atas orang tuanya bermula sejak proses pemilihan calon ibu, memberikan nama yang baik dan menafkahinya.

Rasulullah saw bersabda, “Seseorang sangat berdosa apabila menyia-nyiakan orang yang memberi makan”. (Al-Bukhari)

Setelah adanya tempat perlindungan yang bersifat material, anak memerlukan tempat perlindungan yang bersifat mental. Malah anak-anak mempunyai hak untuk dicintai dan disayangi.

Orang-orang Arab gunung datang kepada Rasulullah, kemudian mereka bertanya, "Pernahkah kamu mencium anak-anak kamu? "Ya", jawab Rasulullah saw. Kemudian, mereka berkata, "Demi Allah, kami belum pernah mencium anak-anak kami". Nabi pun bersabda, "Apakah kalian menginginkan jika Allah mencabut kasih sayang hati dari kalian?" (Al-Bukhari)

Anak-anak mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan, tempat perlindungan dan pengasuhan yang baik. Rasulullah saw bersabda, “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah akhlak mereka”. (Ibnu Majah)

Anak-anak mempunyai hak untuk diperlakukan secara adil dan mendapatkan kasih sayang yang sama di antara mereka.

Rasulullah saw bersabda, “Berbuat adillah kepada anak-anak kamu ketika marah seperti mana kalian berbuat adil di antara kamu ketika baik dan sayang”. (At-Thabrani)


Mendidik Anak-Anak dan Melayaninya Dengan Baik

Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash, Rasulullah saw bersabda, “Seseorang yang sangat berdosa apabila menyia-nyiakan orang yang memberi makan”. (Abu Dawud, Al-Hakim dan Ahmad)

Rumah atau keluarga adalah tempat mendidik yang terbaik buat anak. Apabila keluarga sedar dan bertanggungjawab dengan tugasnya, anak-anak akan menjadi baik dan berkembang sesuai dengan tabiatnya. Akan tetapi, kebanyakan keluarga tidak menyedari kelalaian dan kajahilan mereka.

Anak dilahirkan sebanyak dua kali: kelahiran pertama adalah kelahiran secara fizikal sedangkan kelahiran kedua adalah kelahiran secara persekitaran. Jika yang pertama dikaitkan dengan unsur keturunan, kelahiran kedua berkaitan dengan persekitaran masyarakat yang beraneka ragam.

Anak adalah amanah kepada kedua-dua orang tuanya. Hatinya yang bersih adalah permata yang paling berharga. Ia boleh dibentuk dengan pelbagai bentuk, sesuai dengan keinginan pemahatnya. Jika dibentuk dengan kebaikan dan ilmu, ia akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, jika ia dibentuk dengan keburukan, ia boleh lebih jahat daripada binatang ternak. Bahkan, ia membawa kecelakaan dan kebinasaan.


Mereka Ingin Menghancurkan Keluarga

Berbagai-bagai usaha dilakukan untuk menghancurkan keluarga sebagai unit terkecil dalam Islam dan menyebarkan kerosakan dalam masyarakat.

Dowr Kayme dan Levi Breal memiliki perkongsian yang sangat besar dalam merosakkan generasi muda terutama wanita. Melalui ilmu sains sosial yang dipimpinnya, mereka mulai memasarkan pemikiran-pemikiran Sigmund Freud. Segala macam bentuk cadangan dan prinsip terwujudnya pemikiran tersebut mereka tonjolkan.

Mereka tidak hanya menanam keburukan akhlak, malah membiasakan pelajarnya ke pawagam untuk belajar mengawal nafsu. Malah, mereka diajarkan secara langsung bagaimana caranya bercinta, berpakaian seksi bagi remaja perempuan, cara meminum minuman keras serta menyeru kepada kebebasan dan bergaul tanpa batas antara lelaki dan perempuan. Ahli falsafah Simone de Beauvoir dalam bukunya yang berjudul “The Second Sex” menyeru semua wanita agar menentang dominasi lelaki. Beliau beranggapan dominasi lelaki telah menghalang kemaslahatan wanita.

Itulah propaganda syaitan dan kumpulannya yang selalu dihembuskan secara terus-menerus. Kerosakan akhlak dan kemerosotan moral masyarakat yang ketika ini kita saksikan merupakan hasil daripada kerja yang mereka lakukan. Di beberapa negara, permasalahan kehidupan keluarga dianggap sebagai kuno, simbol keterbelakangan dan menghalang kebebasan kaum wanita.

Mereka ingin menghancurkan keluarga yang merupakan tulang belakang utama yang membentuk masyarakat. Tanpa disedari, masyarakat kita termakan dengan propaganda itu. Mereka tidak sedar bahawa apa yang mereka lakukan akan menghancurkan diri dan masyarakat mereka sendiri.

Adakah para da’i menyedari keadaan tersebut dan berusaha untuk mengembalikan fungsi keluarga sebagai tonggak utama?



Petikan dari Pemikiran Modenerat Hasan Al Banna oleh Musthafa Muhammad Thahan, Penerbit Harakatuna, Bandung, Indonesia.
Post a Comment